Articles by "PKB"

Panduan Atau Tips Menulis Cerita Cepat Untuk Guru

Dalam penulisan cerita atau membuat cerita bagi seorang guru kebanyakan akan ragu dan cenderung beralasan tidak bisa, langsung bawaan nya mumet bagi seabagian guru yang diminta membuat cerita sendiri dan menuliskannya, suka atau tak suka pada suatu waktu bisa saja Bapak/Ibu diminta membuat cerita sendiri dan menuliskannya apalagi diminta menulis cerita cepat, dengan itu tentunya kita lebih bersiap sedari dini dari tips berikut:
Apa reaksi anda jika di minta menulis cerita?
Panduan Atau Tips Menulis Cerita Cepat Untuk Guru
Itu mungkin bagi sebagian orang, Bapak/Ibu mau seperti ini, atau diminta menuliskan cerita cepat terasa santai saja, karena sejatinya itu mudah....
Apa reaksi anda jika di minta menulis cerita?
Panduan Atau Tips Menulis Cerita Cepat Untuk Guru


Follow Me !
1. Pikirkan ide cerita
Lakukan beberapa hal untuk mencari inspirasi ; baca buku-buku favorit anda, perhatikan lingkungan sekitar, mengobrol dengan anak-anak . Lakukan apa yang tepat untuk anda!
Pilih cerita yang sesuai dengan bakat dan minta anda (fantasi, misteri, aksi, dll)
Pada cerita anak anda tak harus bersikap realistis. Anda bisa menulis tentang kera yang bisa berbicara, dunia peri yang serba ajaib. Kembangkan imaji!

2. Kembangkan tokoh cerita yang anda punya.
Siapa tokoh utamanya?
Berapa banyak tokoh di dalamnya?
Siapa tokohnya? Manusia, hewan , fantasi
Buat gambaran para tokoh cerita dan bagaimana mereka terlibat dalam cerita.

3. Pastikan gaya penulisan anda sesuai dengan usia sasaran 
Usia 3 – 5 tahun :
Tema yang bisa digunakan petualangan ; tersesat dan mencari jalan pulang, berani, berbagi sesuatu, pemaaf,  dll
Gunakan kalimat sederhana untuk menjelaskan sesuatu.
Usia 5 – keatas:
Penggunaan kata – kata sudah mulai lebih kompleks tetapi tetap harus berhati – hati dalam menjelaskannya agar pembaca muda anda tidak frustasi dalam memahaminya.
Buku bisa cukup panjang (terbaca selama 2 – 3 malam)
Tema yang bisa digunakan : mengatasi tantangan, memahami alasan baik dalam melakukan sesuatu, dll.

4. Buatlah gambaran cerita jika di perlukan.
Kecuali anda menulis untuk tingkat usia sangat muda. Akan lebih bijak jika anda merencanakan baik-baik struktur cerita lebih dulu. Gunakan note ; buat dalam bentuk gambar atau tulis gambaran cerita secara umum. Yang penting anda memiliki pemahaman umum sejak awal, tengah dan akhir cerita.
Pembagiannya :

Perkenalkan tokoh cerita dengan penjelasan sifat fisik dan kepribadian, lingkungan mereka dan dengan siapa mereka berhubungan.
Buat masalah atau konflik. Bisa terjadi antara 2 orang, konflik internal (dengan diri sendiri) atau konflik tokoh utama mengatasi halangan dengan dunia luar.
Tulislah puncak cerita, dimana dibagian ini tokoh berhadapan langsung dengan sumber konflik.
Tunjukkan bagaimana para tokoh cerita memecahkan masalah dan apa yang terjadi setelah itu.

TIPS MENULIS CERITA ANAK
Gunakan humor saat memungkinkan. Bagi anak – anak usia muda, pusatkan pada hal-hal lucu yang akan membuat pembaca anak maupun dewasa tertawa bersama
Gunakan kata-kata yang berirama sederhana. Hal ini membuat cerita lebih mudah dan lebih menyenangkan dibaca keras-keras baik oleh anak maupun para orang tua ( mis : fox in socks Dr. Seuss)
Bila memungkinkan, tunjukkan kepribadian tokoh cerita melalui kata – kata dan perbuatannya bukan pernyataan lemah seperti “santi itu jahat” lebih baik menulis “Santi merebut pensil itu dari Ika dan berkata sekarang pensil ini milikku”.

Pertimbangkan apakah akan menambahkan gambar atau tidak. Jika anda bisa menggambar, menambahkan karya seni anda sendiri bisa menambah keindahan cerita dan membuatnya lebih mudah diikuti.

Sebagian besar cerita untuk anak – anak sebaiknya berakhir dengan bahagia ; karena biasaanya anak- anak tidak suka bila tokoh kesayangan mereka mengalami akhir yang buruk. Tapi tidak semua cerita harus berakhir dengan bahagia, akhir sedih pun tapi dikarang dengan baik bisa membantu anak-anak menghadapi beberapa pelajaran hidup yang lebih keras.
Jelaskan tokoh cerita atau tempat sebaik mungkin agar pembaca berusia muda bisa menggambarkannya dengan cara seperti yang anda inginkan, tetapi jangan membuat penjelasan yang rumit ; ini akan membingungkan anak dan mengalihkan dari cerita itu sendiri.

Contoh :
YA : Dia berjalan dengan berani menuju hutan hijau berbau busuk itu dan bersin dengan suara keras.
JANGAN : Dia berjalan dengan berani menuju bayang – bayang matahari, pepohonan yang menghijau, bau membusuk dari kulit kayu tua yang membusuk dan daun – daun yang menegring. Suara bersinnya mengguncang seantero hutan.
Dunia yang di gambarkan pada sebagian besar cerita anak adalah cerah, penuh warna dan penuh harapan ; kepribadian tokoh memiliki sikap positif.
Dari cerita yang anda tulis memiliki hikmah cerita di dalamnya.

Menulis terus!
Setelah kata pertama,
kalimat pertama,
paragraph pertama,
Buku pertama
lanjut terus …
Jaga semangat! (Ashadi Siregar : Cintaku di Kampus Biru)

Artikel ini dari
Syefriani Darnis
Freelance Writer/Lecturer/
Early Childhood Edu. Programme Consultant
syefrianidarnis@yahoo.com


Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

Jika kita ingin mengenali ada begitu banyak terdapat Model-Model Penelitian tindakan Kelas, Bapak/Ibu Guru semua tentu sudah banyak pengalaman dari pengalaman tersebut tentu pula adalah jam terbang, dari situlah bermuara hadirnya PTK disajikan guna melahirkan solus-solusi yang kita sudah dapat sebelumnya. Sebelum kita lebih jauh mengetahui Penelitian Tindakan Kelas pada posting ini kami menyajikan model atau Jenis-Jenis Penelitian Tindakan Kelas.

Terdapat beberapa  model PTK yang dapat dikembangkan sesuai masalah yang dihadapi oleh setiap guru. Model-model PTK yang dimaksud diantaranya adalah :

1. Model Kurt Lewin
Model Kurt Lewin merupakan model yang menjadi acuan daripada semua model PTK yang dikembangkan,  lantaran Kurt Lewin adalah orang pertama kali yang memperkenalkan Classrom Actions Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas. Model Kurt Lewin menetapkan empat langkah dalam PTK, yaitu :perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting). 
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

2. Model Kemmis Mc Targart
Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapatmencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai.
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli


3. Model John Elliott
Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa tahap itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli


4. Model Dave Ebbut
Model PTK yang digambarkan oleh Ebbutt menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian. Dimulai dengan pemikiran awal penelitian yang berupa pemikiran tentang masalah yang dihadapi di dalam kelas, penentuanfokus permasalahan berada pada bagian ini. Dari pemikiran awal dilanjutkan dengan pemantauan (reconnaissance), pada bagian pemantauan ini Ebbutt berpendapat berbeda dengan penafsiran Elliot mengenai pemantauannya Kemmis, yang seakan-akan hanya berkaitan dengan penemuan fakta saja(fact finding only).Padahal, menurut Ebbutt pemantauan mencakup kegiatan-kegiatandiskusi, negosiasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan dan kendala ataumencakup secara keseluruhan analisis yang dilakukan.Berdasarkan pemikiran awal dan pemantauan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perencanaan dan berturut-turut dengan kegiatan pelaksanaan tindakan yang pertama, pengawasandan pelaksanaan pemantauan, dan melanjutkan pelaksanaan tindakan kedua. Pada siklus yang digambarkan oleh Ebbutt, dia memberikan pemikiran bahwa jika dalam pelaksanaan dan pemantauan setelah tindakan ada masalah mendasar yang dialami, maka perlu perubahan perencanaan dan kembali melaksanakan bagian siklus tertentu yang telah dijalani.
Inilah Model-Model Penelitian Tindakan Kelas Dari Para Ahli

5. Model Hopkins
Desain ini berpijak pada desain model PTK pendahulunya. Selanjutnya
Hopkins (2011) menyususun desain tersendiri sebagai berikut:
mengambil start – audit – perencanaan konstruk – perencanaan tindakan
(target, tugas, kriteria keberhasilan) – implementasi dan evaluasi: implementasi (menopang komitmen: cek kemajuan; mengatasi problem) – cek hasil – pengambilan stok – audit dan pelaporan.
Sumber: Sukayati.( 2008) Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika,Rofi’udin, A. H. 1996. Rancangan Penelitian Tindakan.

e-PKB Pastikan Guru Bisa Belajar Mandiri

Mekanisme Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Dalam Perencanaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan elektronik pengembangan keprofesian berkelanjutan (e-pkb), dalam roadmap yang sedang,tengah dan akan berjalan ini pada mekanisme pengembangan profesi guru Ditjen GTK telah memaparkan sebagai berikut penjabarannnya.
Catatan :
  • SKG = Standar Kompetensi Guru
  • PKK = Penilaian Kompetensi dan Kinerja
  • UKG = Uji Kompetensi Guru
  • PKG = Penilaian Kinerja Guru
PKK   Penilaian Kompetensi Kinerja, Meliputi
PKG,  Penilaian Kinerja Guru
 UKG Uji Kompetensi Guru
Prestasi Belajar Siswa
tiga kriteria diatas akan menjadi dalam satu kesatuan Raport Guru dalam berbagai kebijakan akan jadi pertimbangan Insentif Berbasis Kompetensi dan Kinerja.

UKG merupakan penjabaran bentuk uji tertulis terhadap kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, sementara PKG Obeservasi terhadap:
Kompetensi Pedagogi
Kompetensi profesional
Kompetensi Sosial
Kompetensi Kepribadian

Yang akan dinilai oleh
1. Kepala Sekolah
2. Pengawas
3. Komite Sekolah
4. Siswa
5. Dunia Usaha dan Industri

Mekanisme Pengembangan Keprofesian dalam e-PKB atau elektronik pengembangan keprofesian berkelanjutan,  Menu e-PKB 40% e-PKB dilaksanakan secara mandiri di rumah maupun di sekolah baik jenjang TK, SD,SMP,SMA dan SMK.

Dan Pada Kelompok Kerja sebagai salah satu wadah peningkatan kompetensi guru dalam pengembangan profesinya yang saat ini
KKG
MGMP
KKKS/KKPS
KKPS/MKPS

20 % (persen) e-PKB dilaksanakan pada kelompok kerja GTK dengan mendapatkan dana langsung dan pendampingan dari instruktur yang terlatih (NCT, PCT, dan DCT)
GTK mengikuti PKB dengan menu yang tersedia sesuai dengan skor UKG1 untuk mencapai UKG2. Apabila target skor UKG2 tercapai  GTK selesai mengikuti PKB. Apabila tidak, GTK harus mengulang PKB sampai UKG2 tercapai

Pengembangan Modul PKB, Modul Selalu di Review dan di Kembangkan Oleh Widyaiswara PPPPTK, Jumlah Widyaiswara 656 di seluruh PPPPK Tiap tahun Memperbaharui Modul

Program Widyaiswara
*Min 1 WI satu modul tiap tahun
*Modul baru atau pembaharuan
*Bisa juga modul interaktif
*Hasil karya (modul) dilombakan
*Penghargaan OJT ke LN
*Penghargaan Short Course LN

Forum Ilmiah Guru Jenis dan Karakteristiknya

Berbagai jenis forum ilmiah yang kita ketahui merupakan salah satu bagian unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan atau PKB bagi guru, tahukah bapak ibu apa itu forum ilmiah ?
Forum Ilmiah merupakan tempat, wadah atau wahana melakukan kegiatan presetasi ilmiah, begitu banyak jenis forum ilmiah yang mesti bapak ibu ketahui dari tujuan dan maksud pelaksanaannya.

Forum ilmiah dalam skala terbatas ini bisa saja terjadi misal seorang guru melakukan presentasi pada makalahnya pada kegiatan Kelompok Kerja Guru/KKG maupun MGMP, kegiatan ini dapat menjadi suatu latihan bagi guru kelak nantinya pada kalangan yang lebih luas
Baca Juga Cara Menulis Karya Ilmiah yang baik dan benar

Mengenal forum ilmiah guru ini cukup penting kiranya dari setiap kita akan, sedang dan tengah mengikuti kegiatan forum ilmiah tersebut, nah untuk itu mari kita simak satu persatu.

Forum Ilmiah Guru Nama dan maksud tujuannya sebagai berikut:
1. Seminar
Seminar, forum ilmiah yang membahas suatu permasalahan yang dikemas dalam satu tema besar seminar. Tema besar tersebut dapat diperinci menjadi beberapa topik pembahasan. Dengan demikian, proses seminar diawali dengan presentasi dari pemakalah utama yang bersifat umum untuk membahas tema besar seminar, kemudian diikuti dengan presentasi dari pemakalah topik-topik khusus.  biasanya diikuti dengan diskusi-diskusi antar peserta dan pemakalah
Tujuan seminar adalah untuk mencari suatu pemecahan atau mencapai suatu kesepakatan sehingga biasanya diakhiri dengan kesimpulan, keputusan bersama, bahkan resolusi atau rekomendasi.

2. Lokakarya
Lokakarya atau workshop merupakan forum ilmiah yang membahas suatu karya. Lokakarya seringnya diawali dengan presentasi tentang suatu karya atau cara menghasilkan karya oleh pemakalah dan dilanjutkan dengan kegiatan menghasilkan karya.
Tujuan lokakarya atau workshop adalah menghasilkan karya atau produk misalnya proposal penelitian, model pembelajaran, dan sebagainya.

3. Simposium
Simposium biasanya menunjukan atau menampilkan topik permasalahan yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau dari berbagai aspek oleh para ahli.  Pembicara dalam simposium terdiri atas pembahas utama dan presenter banding yang memberikan pandangan dari sudut pandang berbeda atau dari aspek yang berbeda.  Dalam simposium, moderator juga diperlukan untuk mengatur jalannya diskusi dan tanya jawab, yaitu setelah presentasi oleh berbagai pihak selesai baru kemudian peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, tanggapan atau sanggahan.
Tujuan simposium adalah memperoleh pemahaman yang benar dan lengkap mengenai suatu topik.

4. Konferensi

Konferensi merupakan Forum pertemuan ilmiah yang berisi diskusi tentang satu persoalan yang dihadapi bersama, misalnya konferensi tentang bahaya narkoba bagi siswa.

Tujuan konferensi adalah untuk memperoleh solusi atas persoalan tersebut yang menjadi kesepakatan dan komitmen bersama.

Cara Menulis Karya Ilmiah Yang Baik Dan Benar

Seorang guru dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan/PKB harus memenuhi unsur ini dalam kenaikan pangkat dan jabatan tertentu seperti sebelumnya lihat petunjuk pelaksana kenaikan pangkat dari segala ketentuan tersebut ada baiknya kita mempelajari lebih awal petunjuk tentang penulisan karya ilmiah yang baik dan benar sesuai aturan yang berlaku. Banyak hal yang dasar dari sebuah karya ilmiah. misal PTK /Penelitian Tindakan Kelas, Skripsi, Tesis, Disertasi dsb.

Memang jika kita telah mengetahui struktur karya ilmiah yang baik maka akan terasa mudah menyusun komponen-komponen penting dalam sebuah karya ilmiah yang kami jabarkan sebagai berikut:
  • Bagian dalam tulisan ilmiah, antara lain:
  • Judul tulisan
  • Nama dan alamat penulis
  • Abstrak
  • Pengantar
  • Permasalahan penelitian
  • Bahan dan cara penelitian
  • Hasil
  • Pembahasan
  • Simpulan
  • Ucapan terima kasih
  • Daftar pustaka
  • Daftar Isi
Kita rincikan satu persatu sebagai berikut:
1. Judul Tulisan
  • Judul dibuat lebih spesifik yang menggambarkan isi tulisan.
  • Judul hendaknya jangan terlalu panjang.
  • Judul tidak boleh mengandung singkatan.
  • Judul tidak harus berupa kalimat lengkap
2. Nama dan Alamat Penulis
Pada jurnal ilmiah gelar akademik tidak dicantumkan. Apabila terdapat lebih dari satu penulis, maka penulis yang kontribusinya lebih banyak diletakkan di urutan pertama. Alamat posel (e-mail) juga lazim digunakan.

3. Abstrak 
Abstrak tulisan ilmiah harus:
1. Menyatakan tujuan utama dan skop penelitian,
2. Menerangkan bahan dan metoda yang dipakai,
3. Meringkas hasil,
4. Menyatakan simpulan utama.

4. Pengantar
Pengantar harus mengandung empat hal pokok:
1. Sifat dan permasalahan yang akan diteliti
2. Tinjauan kepustakaan
3. Cara dan bahan penelitian
4. Hasil penelitian

Pengantar harus memuat jawaban atas pertanyaan apa (what), di mana (where), kapan (when), mengapa (why) dan bagaimana (how).

Akhir-akhir ini penipisan lapisan ozon telah menyebabkan masuknya sinar matahari ke bumi tidak tersaring (kondisi tidak stabil). Akibatnya, kita kan menanggung tingginya insiden kanker dan biaya medis (kerugian akibat kondisi tidak stabil).

Pernyataan solusi masalah, misalnya:
Kita dapat mencegah akibat-akibat ini bila kita melarang pemakaian bahan kimia yang mendegredasi lapisan ozon (solusi).

5. Permasalahan Penelitian
Penegasan permasalah yang ditulis dalam pengantar. Bahasan konteks harus lebih luas.

6. Bahan 
Dalam bahan penelitian harus disebutkan:
a. Asal penelitian
b. Jumlah penelitian
c. Waktu pendataan bahan
Jika penelitian menggunakan subjek manusia, maka diperlukan persetujuan dari yang bersangkutan

7. Cara Penelitian (Metodologi)
Harus memperhatikan fakta (reliabilitas) dan keaslian data (validitas).
Reliabilitas adalah kemampuan mengukur untuk mendapatkan hasil yang konsisiten.
Validitas menunjukkan bahwa ukuran pada dasarnya mengukur pokok-pokok yang akan diukur.

8. Hasil
  • Hanya memuat hasil penelitian saja.
  • Tidak memuat interpretasi dan diskusi.
  • Berisi fakta berupa tabel, gambar, grafik dalam teks.
  • Dimulai dengan deskripsi sampel, misalnya jumlah dan ketegori sampel, dan pemaparan hasil penelitian dengan menggunakan lambang dan bilangan.
Misalnya:
Ceria menonton film Harriet the spy sampai sepuluh kali karena senang dengan alurnya.Di antara 50 penggali pada penggalian situs arkeologi di Sangiran, 3 orang bergelar Profesor, 5 orang bergelar Doktor, 7 orang bergelar Sarjana Utama, sedangkan lainnya bergelar Sarjana, Sarjana Muda, dan lulusan SMU.
9. Pembahasan
Elemen yang biasa dimuat dalam pembahasan adalah:
1. Tinjauan penemuan
2. Pertimbangan tentang penemuan dalam kaitannya dengan penelitian terdahulu yang relevan.
3. Implikasi penemuan dengan teori/pustaka acuan
4. Pemeriksaan terhadap hasil yang mendukung dan tidak mendukung hipotesis
5. Keterbatasan studi yang berakibat pada simpulan dan generalisasi studi.
6. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
7. Implikasi studi untuk praktek atau studi terapan (opsoinal).

Contoh.
Penemuan letak carries pada akar gigi geraham bawah pada pengunyah daun koka dalam penelitian ini kosisten dengan laporan Turner (1993) yang menemukan kerusakan alveolar pada gigi-gigi pipi.

Pembahasan yang baik menginterpretasikan setiap hasil dalam konteks teoritis yang dipaparkan dalam tinjauan pustaka pada Pengantar. 

10. Simpulan
Hal mendasar dalam simpulan adalah buat pertanyaan “apa hasil yang paling penting dari penelitian ini?” sebelum menuangkannya dalam kalimat. Simpulan biasanya disertai dengan saran akan penelitian selanjutnya

11. Ucapan Terima Kasih
Subbab ini ditulis untuk mereka yang membantu penelitian dan penulisan sampai selesai. Ucapan terima kasih pada lembaga/ instansi, pembimbing,  dan keluarga

12. Daftar Pustaka
Nama pengarang, tahun  terbit, judul buku, nama penerbit, dan kota penerbit.
Contoh:
Buku 
Amstrong, Karen. 1994. A history God. Ballantine Books, New York.

  Jurnal
Small, J.Kenneth. 1997. (judul artikel) The giving of Hostages. (jurnal) Politics and the Life Sciences. (vol dan nomor) 16(1):77-85 (halaman).

  Makalah yang dipresentasikan dalam seminar
Indriati, E. 1999. Molar Patterns on Javanese People. Makalah dipresentasikan pada the Internasional Conference on Paleoanthropology, October 14-19, Beijing.


b. Meskipun definisi dan pengertian yang berbeda-beda, kebanyakan ahli sepakat bahwa tingkah laku altruitis pada manusia adalah tindakan sukarela dengan tujuan untuk kepentingan orang lain, dan lebih merupakan tujuan tingkah laku itu sendiri daripada alat untuk mendapatkan ganjaran dari luar (Bartal, 1976; Mussen dan Eisenberg, 1977; Staub, 1979)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget