Articles by "PEDAGOGIK"

Bagaimana Cara Mendekatkan Diri Dengan Murid ?
Bagi Anda yang merupakan seorang Guru ataupun Pengajar seperti di sekolah ataupun di tempat bimbingan belajar, pasti akan mendapatkan murid yang memiliki sifat ataupun karakter yang berbeda.
Lalu, bagaimana bagi Anda yang merupkan seorang guru ataupun pengejar untuk menyesuaikan diri denga para murid yang memiliki sifat atau karakter berbeda? Ini dia cara-caranya:

1. Ketahui apa yang murid Anda sukai Anda harus bisa mengetahui ataupun memahami murid Anda, terutama dalam mengetahui hal-hal apa yang disukai oleh murid Anda tersebut. Mungkin ada dari beberapa murid menyukai sesuatu hal yang sama, seperti bermain game, melukis, bermain musik dan sebagainya.

Bila Anda dapat mengerti dan memahami hal yang disukai oleh murid Anda, Anda mungkin bisa untuk mendekatkan diri, mengejarkannya ataupun sekedar mengobrol sesuatu yang memang murid Anda sukai.

2. Membuat suasana kelas menjadi nyaman dan aktif Bila seorang guru ataupun pengajar dapat membuat suasana kelas menjadi nyaman dan aktif, kemungkinan Anda dapat mengambil hati para murid tersebut.

Kelas yang nyaman ialah kelas yang tidak terlalu tegang ataupun kaku ketika guru mengajar didalamnya dan Anda dapat mengelola kelas tersebut menjadi kelas yang memiliki suasana aktif bukan 'ramai'. Kelas yang Anda ajari kalau bisa dibuat menjadi kelas yang ceria karena didalam tersebut Anda dapat membuat sedikit lelucon ataupun gurauan yang membuat para murid senang ataupun tertawa.

3. Membuat ide atau kreatifitas bersama muridCara ini bisa juga digunakan untuk membuat kelas menjadi aktif dan mengajak para murid yang untuk berkreatifitas dengan ide-ide mereka. Misal, Anda bisa mengajarkan ataupun mengajak para murid tersebut untuk membuat sebuah karya lukisan ataupun anyaman bersama.

Bagaimana apakah Anda akan mulai menerapkan ketiga cara tersebut terhadap anak didik Anda? Kalau iya, selamat mencoba dan jangan lupa untuk menjadikan diri atau memotivasikan diri sendiri agar bisa menjadi guru ataupun pengajar yang menjadi idola maupun kesukaan para murid di sekolah ataupun tempat bimbingan belajar ya!

Data Pengirim Artikel :
Judul Artikel Bagaimana Cara Mendekatkan Diri Dengan Murid?
Nama Penulis Tara Mulya
Email Penulis taramulya@yahoo.com

Kumpulan Beragam Jurus Pembudayaan Budi Pekerti dan  Profil SD Terbaik Indonesia
SD Berbudi Pekerti
Tiga komponen utama yang kita kenal dalam intisari revolusi mental yang di gaung-gaung kan, yakni perlunya integritas, kerja keras dan gotong royong. Jika kita jabarkan kembali, dalam integritas ada nilai-nilai tentang jujur, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. Di dalam kerja keras ada nilai-nilai luhur tentang etos kerja, daya saing, optimistis, inovatif dan produktif. Sedangkan jabaran nilai-nilai dari gotong royong ada kerjasama, solidaritas, komunal dan berorientasi pada kemaslahatan. Inilah karakter yang lengkap, yaitu memperhatikan karakter
moral sekaligus karakter kinerja.

Sektor pendidikan adalah garda utama terbangunnya nilai-nilai karakter itu. Maka Kemendikbud, seluruh warga sekolah, dan para orangtua siswa atau wali murid perlu bergerak bersama membangun nilai-nilai karakter mulia melalui serangkaian ikhtiar peneladanan dan pembiasaan kepada para siswa.

Karakter dan kebudayaan dibangun dari pembiasaan yang konsisten. Ikhtiar pembiasaan ini kita jalankan melalui serangkaian kegiatan penumbuhan budi pekerti dalam keseharian seluruh warga sekolah. Beberapa kegiatan di antaranya bersifat wajib, namun tetap dengan ruang improvisasi di dalamnya.

Kegiatan lain bersifat pilihan dan merupakan ruang bagi warga sekolah untuk bersama-sama menciptakan praktek-praktek baik pembiasaan budi pekerti. Di antara kegiatan wajib adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap akan memulai pembelajaran, membaca doa secara bersama-sama setiap akan memulai dan mengakhiri pembelajaran, dan dalam periode tertentu rutin melibatkan siswa dengan masyarakat sekitar lingkungan sekolah untuk melihat dan memecahkan masalah-masalah nyata di lingkungan tersebut.

Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti tidak dapat dilakukan secara satu arah dan indoktrinatif dari guru kepada para siswa, namun merupakan gerakan bersama seluruh warga sekolah untuk saling memberikan keteladanan dan mendorong tumbuhnya nilai-nilai dan kebiasaan baik. Mari kita gali dan wujudkan nilai-nilai karakter bangsa ini secara konkret.

Berikut preview file 18 profil SD berkarakter yang bersumber dari laman Dit PSD Kemdikbud

Lima Posisi Guru Dalam Menghadapi Pelanggaran Siswa
Kawal Sekolah Aman

Andai tidak ada aturan absensi, tidak ada hukuman, tidak ada nilai, dan tidak ada paksaan, berapa persen (%) siswa yang akan memilih tetap belajar ? Begitu lah pertanyaan dari buku milik Bukik Setiawan Penulis Buku Anak Bukan Kertas Kosong.

Pertanyaan kita adalah, Mengapa Terjadi Kekerasan di Sekolah?, Cara Mengatasi
Kekerasan di Sekolah?, Mencegah Kekerasan di Sekolah?, Bagaimana Menggunakan Media Sosial?...

Kekerasan di lingkungan pendidikan bukan sekedar perkara moralitas, tapi persoalan kegagalan pelaku menemukan solusi yang sehat di tengah relasi kuasa yang tidak simetris, Jebakan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan adalah menghilangkan gejalanya tapi membiarkan sumber terjadinya kekerasan.

"Sudahkah Sekolah Kita Aman, Nyaman dan Menyenangkan?"
Mengatasi Kekerasan di Sekolah
  • Identifikasi dan selesaikan sumber kekerasan, bukan hanya gejalanya
  • Guru dan Guru BK didorong lebih banyak mendengar & memahami
  • Pendampingan intensif pada korban dan korban pelaku serta keluarganya
  • Kembangkan kepercayaan diri korban. Bangun sistem dukungan
  • Ajak korban pelaku merefleksikan kebutuhan, emosi dan tujuan hidupnya
Lima posisi guru dalam menghadapi pelanggaran siswa
1. Penghukum. Menuding "Jika tidak kerjakan tugas, kamu akan di hukum". Siswa jadi memberontak, menyalahkan teman atau berbohong, kesalahan berulang merupakan bentuk perlawanan.
2. Pembuat rasa bersalah menceramahi. "Kamu harus tahu mana yang benar mana yang salah", siswa akan menyembunyikan pelanggaran denial dan berbohong, harga diri siswa rendah, rentan di pengaruhi.
3. Teman baik. Membuat pemakluman, "Kamu terlambat...pasti karena macet ya? jangan diulangi ya, demi bapak dan ibu.  Ketergantungan siswa dengan kehadiran guru.
4. Pengawas, memantau dan mencatat dan mengungkit-ungkit kesalahan siswa. "Kamu sudah tahu aturan nya kan?" siswa menjadi konformis berorientasi pada reward yang di dapatkan.
5. Manajer. Bertanya mencari solusi, "Apa akibatnya? bagaimana kita bisa memperbaiki nya?". Siswa merefleksikan tindakan nya dan mencari solusi. Menjadi pembelajar mandiri.

Referensi tulisan Anak bukan kertas kosong karya Bukik Setiawan

Contoh Deskripsi Penilaian Raport Kurikulum 2013 Hasil Revisi
skema deskripsi penilaian kurikulum 2013
Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian Hasil Belajar oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan pengukuran pencapaian satu atau lebih Kompetensi Dasar.  Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan sebagai sumber informasi utama dan pelaporannya menjadi tanggungjawab wali kelas atau guru kelas.

Hasil penilaian pencapaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat atau deskripsi, penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai, penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai.

Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi; dan  peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi.

Kenaikan Kelas pada kurikulum 2013
Hasil belajar yang diperoleh dari penilaian oleh pendidik digunakan untuk menentukan kenaikan kelas peserta didik.  Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas apabila hasil belajar dari paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran pada kompetensi pengetahuan, keterampilan belum tuntas dan/atau sikap belum baik.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku bagi peserta didik SDLB/SMPLB/SMALB/SMKLB.

Deskripsi Penilaian Sikap pada Kurikulum 2013 Revisi

Berikut contoh deskripsi penilaian sikap spritual oleh wali kelas.
Deny:
Selalu bersyukur dan berdoa sebelum melakukan kegiatan serta memiliki toleran pada agama yang berbeda; ketaatan beribadah mulai berkembang
.
Contoh kesimpulan hasil deskripsi penilaian sikap sosial oleh wali kelas
Deny;
Memiliki sifat santun, disiplin dan tanggung jawab yang baik, responsif dalam pergaulan; sikap kepedulian meningkat.


Pada dua aspek kesimpulan hasil deskripsi tersebut dapat kita tarik kesimpulan. kalimat "mulai berkembang",menjadi deskripsi yang muncul apabila anak didik kita pada penilaian kurikulum 2013 berada pada rentang nilai cukup/kurang maka memunculkan kalimat mulai berkembang.
Sebaliknya pada kalimat  "kepedulian meningkat" ini berada pada rentang nilai baik.

Peran Keluarga dalam Pembelajaran Siswa Pola Kemitraan Sekolah
Foto diambil dari tweet kemdikbud.go.id Ultah Menteri Anies ke-47
Masih banyak keluarga yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah. Tidak semua kebutuhan pendidikan anak dapat dipenuhi oleh satuan pendidikan maupun keluarga.  

Peran sekolah adalah membantu keluarga agar pelaksanaan pendidikan lebih sistematis, efektif, dan hasilnya tersertifikasi, sehingga memperoleh pengakuan dari pihak yang berkepentingan. Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama. Kerjasama keluarga dengan satuan pendidikan mutlak diperlukan.


Satuan pendidikan wajib mendorong kemitraan dan pelibatan keluarga dalam memajukan pendidikan anak mereka. Menjalin kerjasama dan keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tri sentra pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk menumbuh-kembangkan karakter dan budaya berprestasi peserta didik.

Baca juga; Lembar Kerja Interaksi Orang Tua Kurikulum 2013
Peran Keluarga dalam Pembelajaran Siswa Pola Kemitraan Sekolah

Peran Satuan Pendidikan
  • Melakukan analisis kebutuhan
  • Menyusun program tahunan pendidikan keluarga
  • Melakukan pertemuan dengan orang tua/wali peserta didik
  • Melaksanakan program pendidikan keluarga
  • Melakukan supervisi dan evaluasi
Peran Keluarga
  • Menciptakan lingkungan belajar di rumah yang menyenangkan dan mendorong perkembangan budaya prestasi anak.
  • Menjalin interaksi dan komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak.
  • Memberikan motivasi dan menanamkan rasa percaya diri pada anak
  • Menjalin hubungan dan komunikasi yang aktif dengan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
  • Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan anak di sekolah
  • Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan anak di sekolah

Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Jenjang Sekolah Dasar
Keterampilan literasi

Kompetensi literasi dasar (menyimak-berbicara, membaca-menulis, berhitung memperhitungkan, dan mengamati-menggambar) sudah selayaknya ditanamkan sejak pendidikan dasar, lalu dilanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar peserta didik dapat meningkatkan kemampuan untuk mengakses informasi dan pengetahuan.

Selain itu, peserta didik mampu membedakan informasi yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Hal itu karena literasi mengarahkan seseorang pada kemampuan memahami pesan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk teks (lisan, tulis, visual).

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, salah satunya, mengenai kegiatan membaca buku nonpelajaran selama lima belas menit sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan tersebut adalah upaya menumbuhkan kecintaan membaca kepada peserta didik dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merangsang imajinasi.

Baca juga artikel terkait:
GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan
bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
DOWNLOAD DISINI

Strategi Membaca Pemahaman Pada Program Literasi Sekolah
Posisi duduk saat membaca dan menulis yang baik
Semakin banyak pengetahuan dan pengalaman siswa tentang topik yang dibacanya, semakin mudah siswa memahami teks tersebut masih ingat  pada bahasan klik baca praktek membaca pemahaman dengan media big book yang kita bahas beberapa hari yang lalu, pada bahasan kali ini kita akan bahas strategi-strategi dalam membaca pemahaman yang baik pada program literasi sekolah kita coba pada kelas rendah, kelas 1, 2 dan 3 Sekolah Dasar.
Strategi Membaca Pemahaman Pada Program Literasi Sekolah
Gambar yang bisa digunakan dikelas rendah

Strategi Membaca Pemahaman
1. Mengaktifkan Pengetahuan

Contoh – contoh pertanyaan :

Siapa yang ada di gambar ini, laki-laki atau perempuan?

Siapa kira – kira namanya?



Strategi Membaca Pemahaman Pada Program Literasi Sekolah
kelas rendah
2.Menghubungkan
Teks dengan dirinya sendiri.

Apakah kamu pernah membantu Ibu di rumah?
(2) Teks dengan dunia anak

Apakah kamu pernah melihat bunga yang berbeda?
(3) Teks dengan Teks lain
Apakah kamu pernah membaca buku tentang menyiram bunga/tanaman?

3. Menduga
Siswa menggunakan pengetahuan sebelumnya. Siswa berpikir melebihi apa yang tertulis dalam teks.
Mengapa Nina suka membantu Ibu dirumah?
Strategi Membaca Pemahaman Pada Program Literasi Sekolah
contoh gambar yang bisa digunakan dikelas rendah
4. Memprediksi 
Menuntut siswa untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dan mengkonfirmasi prediksi tersebut dalam aktifitas membaca yang dilakukannya?
Apa yang akan terjadi kemudian?
Bagaimana cerita selanjutnya?

5. Mempertanyakan
Siswa mengajukan pertanyaan – pertanyaan di seputar teks itu agar tetap membaca, menuntun siswa pada bacaan, mengklarifikasi kebingungan dan membuat pemahaman awal.
Mengapa Nina senang membantu Ibu?

6. Menyimpulkan
Strategi ini dapat melalui kegiatan memparafrasakan ide dalam bentuk pernyataan yang ringkas.
Apa kegemaran Nina?
Kegiatan apa yang dilakukan Nina untuk menolong Ibu?
dll

7. Memvisualisasikan
Penggambaran dapat dilakukan melalui gambar – gambar dengan kata-kata verbal bergantung pada tujuan.
Bisakah kalian gambarkan tentang Nina?

Strategi Membaca Pemahaman Pada Program Literasi Sekolah
Contoh memvisualisasikan
Segalanya berawal dari kita sebagai guru dalam mengelola cara mengajar yang baik, agar anak didik kita merasa nyaman dan suasana belajar yang menyenangkan lahir dengan kondisi tersebut maka proses transfer ilmu pengetahuan akan jauh lebih mudah dan menyenangkan.

Contoh Program Literasi Sekolah Rancangan Seimbang Strategi Pembelajaran

Contoh program literasi sekolah ini merupakan komponen agar terselenggaranya kegiatan literasi terencana dan sistematis dengan memperhatikan faktor serta kondisi lingkungan sekolah setempat.
Program literasi yang seimbang didesain dengan memperhatikan beragam strategi pembelajaran, pemilihan bahan sesuai dengan kebutuhan dan guru yang responsif. Keterampilan literasi siswa sangat berpengaruh terhadap pencapaian akademiknya. Semakin baik literasi siswa,akan semakin baik pula pencapaian akademiknya.

Keterampilan Literasi adalah keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis Keterampilan literasi akan berkembang melalui pembiasaan. Kegiatan yang beragam dapat memotivasi siswa untuk menyenangi literasi.

Program Literasi Seimbang
Dengan demikian Bimbingan guru semakin berkurang, siswa membaca dengan mandiri, Guru memberikan bimbingan maksimal

Merancang Program Literasi di sekolah contoh program literasi sekolah adalah sebagai berikut, hanya sebagai referensi saja bagi bapak/ibu yang ingin menerapkan kegiatan literasi ini di sekolah nya.
Contoh Program Literasi Sekolah Rancangan Seimbang Strategi Pembelajaran
Baca juga keterampilan dan strategi literasi sebagai berikut:
Literasi sangat penting bagi siswa karena keterampilan dalam literasi berpengaruh terhadap keberhasilan belajar mereka dan kehidupannya. Keterampilan literasi yang baik akan membantu siswa dalam memahami teks lisan, tulisan maupun gambar/visual.

Cara Menarik Minat Siswa Pada Mata Pelajaran Tertentu

Kita termasuk saya dan Bapak/Ibu semua sebagai guru kita yakini tentu sudah bahkan sering membaca berbagai teori untuk menarik minat siswa dalam suatu pembelajaran yang bahkan mata pelajaran yang sulit sekalipun tetap di gemari siswa nya, tentunya pasti siswa harus menyenangi guru nya nanti kita akan bahas bagaimana cara tips guru agar disenangi siswa nya, namun saat ini kita pada rel dari pengalaman kami atas pertanyaan sahabat guru, Ada faktor yang punya pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Jika sudah diidentifikasi faktor-faktor penentu  prestasi belajar, bagaimana pula solusi agar siswa berminat pada mata pelajaran tertentu.?

Saya yakin Bapak/Ibu telah membaca banyak teori pembelajaran bahkan punya seabrek teori berkaitan dengan berbagai solusi, walau demikian kami juga memaklumi menerapkan segudang teori berupa solusi permalasahan tertentu tidak serta merta semudah membalik telapak tangan.

Yang dihadapi para Guru adalah siswa yang sifatnya dinamis hidup dan berkembang di tengah perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin canggih. Bisa saja, pengetahuan siswa lebih dalam dibandingkan guru dalam hal ilmu-ilmu tertentu, Bukankah Sumber Informasi Belajar sudah banyak bertebaran disekitar siswa ?

Idealnya, setiap siswa harus meminati semua mata pelajaran yang ada di sekolah. Pada jenjang pendidikan tertentu, mata pelajaran tersebut sudah diatur sedemikian rupa untuk berbagai disiplin ilmu seperti yang tercantum dalam struktur kurikulum pendidikan.
Baca Juga Perkembangan Intelektual Peserta didik berdasarkan cirinya

Akan tetapi faktanya tidak seperti konsep ideal yang kita inginkan. Ada siswa yang kurang atau bahkan tidak meminati mata pelajaran tertentu. Alasannya cukup beragam, seperti pelajarannya sukar dimengerti, banyak rumus, banyak hitung-hitungan, banyak menghafal, dan banyak yang lainnya. Bukan mustahil penyebab kurangnya minat siswa pada mata pelajaran tertentu, berawal dari faktor  guru mata pelajaran yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Berangkat dari fakta tersebut, solusi yang tepat dan jitu mungkin sulit untuk ditemukan. Namun demikian ada beberapa catatan penting untuk selalu kita garis bawahi.
  • 1. Guru semestinya juga melakukan eksperimen
Tak ada guru yang hebat dan pintar dalam memberikan solusi terhadap suatu pembelajaran, kecuali guru yang selalu berusaha dan bereksperimen mengatasi problem belajar sesuai karakter mata pelajaran yang diampunya. Mengapa begitu? Meskipun guru telah mengajar, sesungguhnya saat itulah guru sedang belajar.
  • 2. Guru semestinya dapat memikat siswa dalam tanda kutip positif disenangi siswa-siswanya
Biasanya jika siswa sudah tertarik dengan guru nya lambat laun siswa juga akan menyenangi mata pelajarannya.
  • 3.Guru Juga sebenarnya seniman
Bagaimana menciptkan sesuatu yang indah dalam mengajar karena seyogyanya seorang guru selalu menampilkan yang terbaik dalam tiap pembelajarannya kepada siswa, indah dan menarik dalam perhatian siswa, akting guru didepan kelas sangat penting dalam sebuah peran walaupun itu mata pelajaran yang sulit.
  • 4, Guru Seyogya nya memiliki Media dalam Mengajar
Apa yang dimiliki guru saat mengajar tentu nya media belajar, Media penyampai informasi kepada siswa.  Mulai dari ujung rambut sampai ujung sepatu guru. Rambut, jam tangan, kaca mata, tas, seragam dinas, dan lain sebagainya bisa dijadikan media...

Uraian tersebut mungkin tidak lah cukup untuk memenuhi solusi-solusi atas permasalahan kita terutama masalah siswa kita hanya saja berupa alternatif yang bisa kita lakukan sebagai guru, jika rekan-rekan lain ada saran-saran dari pengalamanya silahkan berkomentar dibawah ini.

Salam Pendidikan



Tahap-Tahap Perkembangan Moral Peserta Didik

Pada artikel yang lalu kita telah membahas tentang bagaiamana memahami baca karakter peserta didik usia sekolah dasar bagaimana peran guru akan hal ini tentu dalam unsur pedagogik amat lah penting jadi acuan karena ini juga ada kaitannya jika kita mau mencermati efek atau akibat kesulitan belajar yang dialami siswa beranjak dari hal tersebut saat ini mari kita bahas secara fokus tentang perkembangan peserta didik.

Jika Jean Peaget membagi perkembangan kognitifnya dengan 4 Fase baca Perkembangan Kemampuan Intelektual beserta ciri-cirinya maka berbeda hal dengan satu ini walau satu nada namun ini pada perkembangan moral peserta didik

Perkembangan moral menurut Kohlberg
Tahap-tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat, yang masing-masing tingkat terdapat 2 tahap, yaitu:

I. Tingkat Pra Konvensional (Moralitas Pra-Konvensional) perilaku anak tunduk pada kendali eksternal:

Tahap
1:  Orientasi pada kepatuhan dan hukuman anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah (reward) dan tidak mendapat hukuman (punishment)
Tahap

2:  Relativistik Hedonism anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative, dan anak lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Menurut Mussen, dkk. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis, egosentris dan konkrit.

II. Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional)
Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional) fokusnya terletak pada kebutuhan social (konformitas).
Tahap 3: Orientasi mengenai anak yang baik anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain.

Tahap 4:  Mempertahankan norma2 sosial dan otoritas menyadari kewajiban untuk melaksanakan norma-norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma, artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus menerima peraturan yang telah disepakati bersama dan melaksanakannya

III. Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional)
Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional) individu mendasarkan penilaian moral pada prinsip yang benar secara inheren.

Tahap 5 Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan lingk sosialnya, artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma social, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat. 
Tahap  

6: Prinsip Universal pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Artinya: dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur-unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan/perilaku itu baik/tidak baik; bermoral/tidak bermoral. Disini dibutuhkan unsur etik/norma etik yang sifatnya universal sbg sumber utk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas.

Adapun kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif sebagai berikut:
1.   Kelebihan:
  • a.   Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
  • b.   Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
2.   Kekurangan:
  • a.   Teori ini tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
  • b.   Sulit dipraktikkan, khususnya di tingkat lanjut.
  • c.   Beberapa prinsip, seperti intelegensi, sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.
Kembali pada bahasan teori  Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan, yaitu sebagai berikut:

Kesulitan Belajar Siswa SD Bagaimana Peran Guru Kelas Dalam Menanganinya
Dalam suatu mapel atau mata pelajaran harus diyakini lebih dominan kejadian pada mata pelajaran yang tersajikan oleh guru ada saja siswa atau salah satu siswa yang mengalami kesulitan belajar, atau kesulitan menerima apa yang kita sampaikan, yah bahasa lazimnya terjadinya kesulitan belajar pada siswa yang harus kita ketahui, apa itu Kesulitan Belajar ? ciri-ciri dan penanganannya jika terjadi pada siswa Bapak/Ibu sekalian.

Children - primary school age children assume that learning should be at school and
given by the teachers rather than by the parents, so that this assumption is no longer willing to lead children to learn at home. Children - children still assumes that learning is an activity that is boring, because it should be prosecuted (both parents and teachers) to always learn and task - the task given by the teacher

Jika kita artikan
Anak – anak usia sekolah dasar menganggap bahwa belajar itu harus di sekolah dan

diberikan oleh guru bukan oleh orang tua, sehingga anggapan ini mengakibatkan anak tidak mau lagi belajar di rumah. Anak – anak masih menganggap bahwa kegiatan belajar merupakan kegiatan yang membosankan, karena harus dituntut (baik orangtua maupun guru) untuk selalu belajar dan mengerjakan tugas - tugas yang diberikan oleh guru

Masalah – masalah atau hambatan dalam belajar itu tidak hanya dialami oleh murid – murid yang
terbelakang saja. Tetapi juga dapat menimpa yang pandai atau yang cerdas.
a. Pada dasarnya masalah belajar dapat di golongkan menjadi :
  • Sangat cepat dalam belajar.
  • Keterlambatan akademik: murid – murid yang memiliki intelgensi normal tapi tidak
  • bisa memanfaatkan secara baik .
  • Lambat belajar: yaitu murid – murid yang tampak memiliki kemampuan yang kurang
  • memadai.
  • Kurang motivasi belajar: murid – murid yang kurang semangat dalam belajar.
  • Sikap dan kebiasaan buruk dalam belajar.
  • Kehadiran di sekolah
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi nya
a. Internal mencakup
⇒ Kondisi fisik, ( seperti kesehatan organ tubuh )
⇒ Kondisi psikis ( seperti kemampuan intelktual )
⇒ Emosional dan kondisi sosial ( seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan )

Learning disabilities are problems faced by individuals associated with
belajar.Menurut activity (Grossman, 2001) learning difficulties is a condition where
a feat not achieved in accordance with standard criteria that have been ditetapkan.Senada with
it is, Sugihartono, et al. (2007) explains that the difficulty of learning is a
symptoms appear on the learner characterized by learning achievement
low or below a predetermined norms

Perilaku guru dapat mempengaruhi keberhasilan belajar, misalnya guru yang bersifat
otoriter akan menimbulkan suasana tegang, hubungan guru siswa menjadi kaku,
keterbukaan siswa untuk mengemukakan kesulitan-kesulitan sehubungan dengan pelajaran
itu menjadi terbatas.
Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan fungsi bimbingan dalam kegiatan
belajar – mengajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses belajar
mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu:
  • a. Mengarahkan siswa agar lebih mandiri
  • b. Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa.
  • c. Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, rendah hati, menyenangkan.

Perkembangan Kemampuan Intelektual Keragaman Peserta Didik Berdasarkan Ciri-Cirinya

Menurut piaget, pada tahap operasional konkrit pada usia anak 5-7 tahun anak dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatu pada umumnya mereka berusia ini hingga 11 tahun.
Berpikir Operasional anak-anak dapat menggunakan simbol, melakukan berbagai bentuk kegiatan operasional, yaitu kemampuan aktifitas mental sebagai kebalikan aktifitas jasmani.

Kita flash back Jean Piaget membagi perkembangan kognitif atas empat fase:
1. Sensor Motorik (0,0-2,0)
2. Pra Operasional (2,0-7,0 tahun)
3. Operasional Konkret  (7,0 -11;0 tahun)
4. Operasional Formal (11,0-15, 0 tahun)

Perkembangan Intelektual sangat bergantung pada berbagai faktor utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani pergaulan dan pembinaan orang tua, jika terjadi gangguan intelektual tersebut anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan mental dan kurang aktif dalam pergaulan.

Perkembangan Emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru disekolah, perbedaan emosional ini juga bisa dilihat berdasarkan ras, budaya,etnik dan bangsa.

Perkembangan Emosional juga dipengaruhi dengan adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh.  Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak.
Misal, Sangat di manjakan, terlalu banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya, akan tetapi sikap orang tua tersebut sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum sekalipun kesalahan anak hanya sepele

Memahami Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah Dasar Pembahasan Kisi-Kisi UKG

Memahami karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosialemosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya. hal ini pun menjadi dasar Uji Kompetensi Guru/UKG
Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar Menurut Nasution (1993 : 44)

 masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga sebelas atau duabelas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap dan tingkah lakunya. Masa usia sekolah dianggap oleh Suryobroto (1990 : 119) sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Tetapi dia tidak berani mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya, masa ini dapat diperinci menjadi dua fase, yakni : 1.    
Masa Kelas Rendah Sekolah Dasar Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah sebagai berikut :
 a)      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah.
 b)      Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang tradisional.
c)      Adanya kecenderungan memuji sendiri.
 d)      Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, kalau hal itu dirasainya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
e)      Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
f)       Pada masa ini (terutama pada umur 6-8 tahun) anak menghendaki nilai yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.


Menjelaskan tahapan perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik

Perkembangan Fisik Perkembangan fisik peserta didik usia SD/MI meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan. Perubahan proporsi atau perbandingan antar bagian tubuh yang membentuk postur tubuh, pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan lemak. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak menentukan ketrampilan anak bergerak. Pertumbuhan dan perkembangan mempengaruhi cara memandang dirinya sendiri dan orang lain, yang berdampak dalam melakukan penyesuaian dengan dirinya dan orang lain.

Menjelaskan implikasi prinsip-prinsip perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik terhadap pendidikan

Pertumbuhan fisik peserta didik usia SD/MI lebih lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa sebelumnya (masa bayi dan TK awal) dan sesudahnya (masa puber dan remaja). Jadwal waktu pertumbuhan fisik tiap anak tidak sama, ada yang berlangsung cepat, sedang atau lambat. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik anak antara lain:
1.   Pengaruh keluarga 
a.   Faktor keturunan Membuat anak menjadi gemuk dari pada anak lainnya. Perbedaan ras suku bangsa (orang Amerika, Eropa, dan  Australia cenderung lebih tinggi dari pada orang Asia).

b.  Faktor lingkungan Akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan anak tersebut. Lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.
 c.  Jenis Kelamin Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan anak perempuan, kecuali pada usia 12-15 tahun.
d.   Gizi dan kesehatan Anak yang memperoleh gizi cukup biasanya lebih tinggi tubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa puber dibandingkan dengan anak yang bergizi kurang. Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai tubuh sehat dan lebih berat dibanding dengan anak yang sering sakit.
 e.   Status sosial dan ekonomi Fisik anak dari kelompok ekonomi rendah cenderung lebih kecil dibandingkan dengan keluarga ekonomi cukup atau tinggi. Keadaan status ekonomi mempengaruhi peran keluarga dalam memberi makan, gizi dan pemeliharan kesehatan serta kegiatan pekerjaan yang dilakukan anak.

 f.   Gangguan Emosional Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenalin yang berlebihan. Hal ini menyebabkan berkurangnya hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitary, akibatnya anak mengalami keterlambatan perkembangan memasuki masa puber. Bagi anak usia SD atau MI, reaksi yang diperlihatkan orang lain terutama oleh teman-teman sebayanya terhadap ukuran dan proporsi tubuhnya mempunyai makna penting. Apabila ukuran-ukuran dan proporsi tubuh anak berbeda jauh dengan teman sebayanya anak akan merasa kelainan, tidak mampu dan rendah diri.

Membedakan berbagai jenis kecerdasan peserta didik berdasarkan ciri-cirinya
Selain itu, struktur pengetahuan juga menjelaskan tentang tingkat kecerdasan peserta didik pada usia SD. Dengan adanya beberapa kecerdasan tiap individu, maka memungkinkan terjadinya kecerdasan ganda (multiple intelligence),  sehingga perlu diadakannya semacam tes untuk mengetahui tingkat intelegensi tiap individu yang biasa disebut dengan IQ (Intelligence Quotient). IQ merupakan hasil bagi usia mental dengan usia kronologis atau kalender dikalikan seratus. Dengan berpegang pada satuan ukuran IQ, maka kecerdasan dikategorikan dalam tabel berikut (Sukmadinata, 2003):

IQ Kategori 140-…… Genius
130-139 Sangat cerdas 1
20-129 Cerdas
110-119 Di atas normal
90-109 Normal
80-89 Di bawah normal
70-79 Bodoh
50-69 Debil
 25-49 Imbecil

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek atau kecerdasan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD atau MI, antara lain:
1.    Kondisi organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui pesan indera dalam perjalanannya ke otak (kesadaran).
2.    Intelegensi mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti dan memahami sesuatu.
3.    Kesempatan belajar yang diperoleh anak.
4.    Tipe pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat pengalaman seara tidak langsung dari orang lain atau informasi dari buku.
5.    Jenis kelamin karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan telah dilatih sejak kecil dengan cara yang sesuai dengan jenis kelamin.

6.    Kepribadian pada anak dalam memandang kehidupan dan menggunakan suatu kerangka acuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Dalam perkembangan intelek, dapat juga terjadi
 kendala dan berbahaya yang mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan, di antaranya:
1.    Kelambanan perkembangan otak yang dapat mempengaruhi kemampuan bermain dan belajar di sekolah serta penyesuaian diri dan sosial anak, yang dikarenakan oleh tingkat kecerdasan di bawah normal dan kurangnya mendapat kesempatan memperoleh pengalaman.

 2.    Konsep yang salah yang disebabkan oleh informasi yang salah, pengalaman terbatas, mudah percaya, penalaran yang keliru, dan imajinasi yang sangat berperan, pemikiran tidak realistis, serta salah menafsirkan arti. Kesulitan dalam membenarkan konsep yang salah dan tidak relistik. Hal ini biasanya berkenaan dengan konsep diri dan sosial yang bisa membingungkan anak.


MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget