Articles by "MATEMATIKA"

Merancang Aktivitas Pembelajaran Berdasarkan Prinsip Dan Teori Pembelajaran Matematika

Pembahasan kisi-kisi UKG SD kali ini kita berfokus pada mata pelajaran matematika saat ini dalam kompetensi dasar yang sering terdengar dan bahasanya tak asing bagi seorang guru yaitu
Merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan prinsip dan teori pembelajaran matematika Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek. Proses tersebut menurut Bruner dikategorikan ke dalam model ..
  • a. Tahap Enaktif
  • b .Tahap Ikonik
  • c. Tahap Simbolik
  • d. Tahap Implikatif
1. Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek. Contoh : Budi mempunyai 2 pensil, kemudian ibunya memberikannya lagi 3 pinsil. Berapa banyak pensil Budi sekarang ?

2. Model Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.

3. Model Tahap Simbolik
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi Simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Contoh : 2 pensil + 3 pensil = … pensil

Kd 3.1.1 Merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan prinsip dan teori pembelajaran matematika Objek belajar matematika dibagi kedalam Objek Langsung dan Objek Tak Langsung.
Hal tersebut adalah teori belajar Matematika menurut ...
a. Robert M. Gagne
b. Jerome S. Burner
c. Thorndike
d. Skinner

Uraian:
Teori yang diperkenalkan Robert M.Gagne pada tahun 1960-an pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan.Menurut Gagne (dalam Ismail 1998), belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung.

Kd 3.1.1 Merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan prinsip dan teori pembelajaran matematika Perhatikan contoh berikut. penjumlahan bilangan positif dan negatif siswa mencoba sendiri dengan menggunakan garis bilangan. Contoh tersebut dikemukakan Bruner dalam Teorema Pembelajaran Matematika ...
a. Penyusunan
b. Notasi
c. Pengkontrasan dan Keanekaragaman
d. Pengaitan

Uraian:
Berdasarkan hasil pengamatannya, Brunner merumuskan 5 teorema dalam pembelajaran matematika, yaitu :
1) Teorema Penyusunan
Menerangkan bahwa cara yang terbaik memulai belajar suatu konsep matematika, dalil, defenisi, dan semacamnya adalah dengan cara menyusun penyajiannya. Misalnya dalam mempelajari penjumlahan bilangan positif dan negatif siswa mencoba sendiri dengan menggunakan garis bilangan

2) Teorema Notasi
Menerangkan bahwa dalam pengajaran suatu konsep, penggunaan notasi-notasi matematika harus diberikan secara bertahap, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.

3) Teorema Pengkontrasan dan Keanekaragaman
Menerangkan bahwa pengontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pengubahan konsep matematika dari yang konkrit ke yang lebih abstrak. Dalam hal ini diperlukan banyak contoh. Contoh yang diberikan harus sesuai dengan rumusan yang diberikan. Misalnya menjelaskan persegi panjang, disertai juga kemungkinan jajaran genjang dan segi empat lainnya selain persegi panjnag. Dengan demikian siswa dapat membedakan apakah segi empat yang diberikan padanya termasuk persegi panjang atau tidak.

4) Teorema Pengaitan
Menerangkan bahwa dalam matematika terdapat hubungan yang berkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Di mana materi yang satu merupakan prasyarat yang harus diketahui untuk mempelajari materi yang lain.

Kd 3.1.1 Merancang aktivitas pembelajaran berdasarkan prinsip dan teori pembelajaran matematika Tahap pembelajaran Matematika menurut Van Halle adalah sebagai berikut, kecuali ..
a. Tahap Pengenalan
b .Tahap Pengurutan
c. Tahap Analisis
d. Tahap Penyimpulan

Uraian:
Van Halle menyatakan bahwa terdapat 5 tahap belajar siswa dalam belajar geometri, yaitu :
a. Tahap Pengenalan
Pada tahap ini siswa mulai belajar mengenal suatu bangun geometri secara keseluruhan namun belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bangun geometri yang dilihatnya.

b. Tahap Analisis
Pada tahap ini siswa sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamatinya.

c. Tahap Pengurutan
Pada tahap ini siswa sudah mengenal dan memahami sifat-sifat suatu bangun geometri serta sudah dapat mengurutkan bangun-bangun geometri yang satu sama yang lainnya saling berhubungan.

d. Tahap Deduksi
Pada tahap ini siswa telah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan yang bersifat umum dan menuju ke hal yang bersifat khusus serta dapat mengambil kesimpulan.

e. Tahap Akurasi
Pada tahap ini siswa mulai menyadari pentingnya ketepatan prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap berfikir ini merupakan tahap berfikir yang paling tinggi, rumit, dan kompleks, karena di luar jangkauan usia anak-anak SD sampai tingkat SMP


Masih ingatkah operasi hitung campuran di kelas III SD yang lalu Pada Bilangan Cacah? tentu masih ingat, Matematika ini jika kita menyukainya tidaklah banyak hal yang susah diingat sungguh asyik belajar Matematika, Untuk mengingatnya kembali, perhatikan
Aturan operasi hitung campuran berikut.
  • 1. Operasi dalam tanda kurung harus didahulukan.
  • 2. Operasi perkalian dan pembagian setingkat. Selesaikan perhitungan dan sebelah kiri ke kanan.
  • 3. Operasi penjumlahan dan pengurangan setingkat. Selesaikan perhitungan dari sebelah kiri ke kanan.
  • 4. Operasi perkalian dan pembagian lebih tinggi daripada penjumlahan dan pengurangan. Perkalian dan pembagian harus dikerjakan dahulu.
Contoh:
Hitunglah:
1. 21 + 4 × 5 = ....
2. 65 × (22 + 32) = ....
3. 160 – 12 × 13 + 210 = ....
4. 1.750 + 1.500 : 30 – 1.250 = ....
Jawab:
1. 21 + 4 × 5 = 21 + (4 × 5)
= 21 + 20
= 41
2. 65 × (22 + 32) = 65 × 54
= 3.510
3. 160 – 12 × 13 + 210 = 160 – (12 × 13) + 210
= 160 – 156 + 210
= 4 + 210
= 214
4. 1.750 + 1.500 : 30 – 1.250 = 1.750 + (1.500 : 30) – 1.250
= 1.750 + 50 – 1250
= 1.800 – 1250
= 550

Penaksiran Dan Pembulatan
1. Pembulatan
Hal yang harus diperhatikan pada pembulatan bilangan adalah angka pada tempat
nilai satuan. Pembulatan ke puluhan terdekat
1) Angka satuan di bawah 5 dibulatkan ke bawah (puluhan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 5 dibulatkan ke atas (puluhan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 78 dan 52 ke puluhan terdekat.

Jawab:
a. 78 dibulatkan menjadi 80
b. 52 dibulatkan menjadi 50
b. Pembulatan ke ratusan terdekat
1) Angka satuan di bawah 50 dibulatkan ke bawah (ratusan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 50 dibulatkan ke atas (ratusan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 172 dan 521 ke ratusan terdekat.
Jawab:
a. 172 dibulatkan menjadi 200
b. 521 dibulatkan menjadi 500
c. Pembulatan ke ribuan terdekat
1) Angka satuan di bawah 500 dibulatkan ke bawah (ribuan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 500 dibulatkan ke atas (ribuan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 7.895 dan 12.164 ke ribuan terdekat.

Jawab:
a. 7.895 dibulatkan menjadi 8.000
b. 12.164 dibulatkan menjadi 12.000
Sekarang, kamu dapat melakukan pembulatan pada bilangan puluhan ribu, ratusan
ribu, daripada bilangan jutaan. Perhatikan contoh berikut.
a. 45.358 dibulatkan ke puluhan ribu menjadi 50.000
b. 219.847 dibulatkan ke ratusan ribu menjadi 200.000
c. 1.793.469 dibulatkan ke jutaan menjadi 2.000.000

Operasi Hitung Penjumlahan,Pengurangan,Perkalian Dan Pembagian Bilangan Bulat

Pada Kelas 4 Sekolah Dasar semester 1 dengan standar Kompetensi Memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah. Dengan Kompetensi Dasar Mengidentifikasi sifat-sifat operasi hitung,
Tujuan Pembelajaran Siswa dapat Mengetahui jenis operasi hitung dengan penanaman nilai  disiplin ( Discipline ) (NK, disiplin ( Discipline )

  • Siswa dapat Memberikan contoh sehari-hari yang berhubungan dengan operasi hitung
  • Siswa dapat Melakukan penjumlahan dan perkalian dengan nol
  • Siswa dapat Melakukan perkalian dengan satu
  • Siswa dapat Melakukan perkalian dua angka dengan angka sebelas
  • Siswa dapat Melakukan penjumlahan dan perkalian tiga bilangan berurutan
  • Siswa dapat Mengidentifikasi sifat penyebaran dalam perhitungan  secara tekun ( diligence ) ( NK. tekun ( diligence )

Operasi Hitung Bilangan 
Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat , menjumlahkan bilangan positif, menjumlahkan bilangan bulat negatif menjumlahkan bilangan bulat postif dan negatif
Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan bilangan positif.
Contoh -6 + 8 = 2, digambarkan pada garis bilangan.

Perkalian Bilangan Bulat
Perkalian adalah penjumlahan berulang sebanyak bilangan yang dikalikan.
Contoh:
2 x 3 - 3 + 3 = 6

Sifat-sifat perkalian suatu bilangan
a. Perkalian bilangan positif dengan bilangan positif, hasilnya positif.
Contoh:
1) 4 x 5 = 5 + 5 + 5 + 5 = 20
2) 7 x 8 = 56
3) 12 x 15 = 180
b Perkalian bilangan positif dengan bilangan negatif, hasilnya negatif.
   Contoh:
    1) 4 x (-5) = (-5) + (-5) +(-5) +(-5) = -20
    2) 7 x (-8) = -56
    3) 12 x (-15) = -180
c. Perkalian bilangan negatif dengan bilangan positif, hasilnya negatif.
    Contoh:
    1) -4 x 5 = -(5 + 5 + 5 + 5) = -20.
    2) -7 x 8 = -56
    3) -12x 15 = -180
d. Perkalian bilangan negatif dengan bilangan negatif, hasilnya positif.
    Contoh:
    1) -4 x (-5) = -[-5 + (-5) + (-5) + (-5)] = -[-20] = 20
    2) -7 x (-8) = 56
    3) -12 x (-15) = 180

Kesimpulan :
1. + X + = +
2. + X -  = -
3. - X  + = -
4. - X  -  = +

Pembagian bilangan bulat
Pembagian merupakan operasi kebalikan dari perkalian
Contoh
12 : 4 = 3, karena 4 x 3 = 12 atau 3 x 4 = 12
42 : 7 = 6, karena 7 x 6 = 42 atau 6 x 7 = 42

Sifat-sifat pembagian bilangan bulat
a. Pembagian bilangan positif dengan bilangan positif, hasilnya positif
    Contoh
    1) 63 : 7 = 9
    2) 143 : 11 = 13
b. Pembagian bilangan positif dengan bilangan negatif, hasilnya negatif
    Contoh:
    1) 63 : (-9) = -7
    2) 72 : (-6) = -12
c. Pembagian bilangan negatif dengan bilangan positif, hasilnya negatif
    Contoh:
    1) -63 : 7 = -9
    2) -120 : 10 = -12
d. Pembagian bilangan negatif dengan bilangan negatif, hasilnya positif.
    Contoh:
    1) -72 : (-8) = 9
    2) -120 : (-12) = 10
Menggunakan Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat
Sifat komutatif
Sifat komutatif (pertukaran) pada penjumlahan dan perkalian.
a + b = b + a
a x b = b x a, berlaku untuk semua bilangan bulat

Contoh:
1) 2 + 4 = 4 + 2 = 6
2) 3 + 5 = 5 + 3 = 8
3) 4 x 2 = 2 x 4 = 8
4) 3 x 2 = 2 x 3 = 6
Sifat asosiatif
Sifat asosiatif (pengelompokan) pada penjumlahan dan perkalian.
(a + b) + c = a + (b+c)
(a x b) x c = a x (bxc), berlaku untuk semua bilangan bulat
Contoh:
1) (2+4) + 6 = 2 + (4+6) = 12
2) (3+6) + 7 = 3 + (6+7) = 16
3) (3x2) x 4 = 3 x (2x4) = 24
4) (3x5) x 2 = 3 x (5x2) = 30
Sifat distributif (penyebaran)
a x (b + c) = (a x b) + (a x c), yang berlaku untuk semua bilangan bulat.
Contoh
1) 4 x (5 + 2) = (4 x 5) + (4 x 2) = 28
2) 5 x (7 + 3) = (5 x 7) + (5 x 3) = 50

Metode guru yang bisa digunakan sebagai berikut:
Metode Pembelajaran, Games, Tanya Jawab, dan Latihan dengan Alat/Bahan dan Sumber Belajar
Buku Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas 4,
Buku lain yang relevan
Kegiatan keseharian yang relevan
Media Pembelajaran

MKRdezign

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget